12 Menu Sarapan dari Berbagai Negara yang Bikin Penasaran untuk Dicoba

Kalau mendengar kata:

sarapan

apa yang langsung muncul di kepala?

Nasi goreng?

Bubur?

Roti?

Telur?

Kopi?

Jawabannya sangat tergantung kita tumbuh di:

mana.

Di satu negara, sarapan bisa berupa sesuatu yang:

manis.

Di tempat lain?

Pedas.

Ada yang cukup dengan:

pastry dan kopi.

Ada juga yang sarapannya terlihat seperti makan siang:

lengkap.

Dan tentu saja ada satu bahan yang terus muncul dalam berbagai bentuk:

telur.

Digoreng.

Direbus.

Diacak.

Dipanggang.

Digulung.

Dimasukkan ke dalam roti.

Atau berenang di saus tomat.

Itulah yang membuat menjelajahi menu sarapan dari berbagai negara menarik.

Bukan cuma soal:

makanan.

Tetapi juga tentang bagaimana masyarakat di tempat berbeda memulai:

hari.

Berikut 12 breakfast yang menarik untuk dicoba.

1. Full English Breakfast — Inggris

Kalau Anda terbiasa sarapan:

ringan,

Full English Breakfast mungkin terasa seperti:

final boss sarapan.

Satu piring bisa berisi:

telur.

Sosis.

Bacon.

Baked beans.

Tomat.

Mushroom.

Toast.

Dan terkadang tambahan lain tergantung tempat:

penyajiannya.

Ini bukan tipe breakfast yang setelah selesai membuat kita bertanya:

“Lunch di mana?”

Kemungkinan besar justru:

“Lunch kayaknya nanti aja.”

Telurnya bisa disajikan:

fried,

scrambled,

atau sesuai gaya tempat tersebut.

Kombinasi komponen hangat dan gurih membuat Full English menjadi salah satu breakfast paling dikenal dari:

Inggris.

2. Shakshuka — Afrika Utara & Timur Tengah

Kalau telur goreng biasa terasa terlalu:

aman,

shakshuka menawarkan sesuatu yang jauh lebih:

berwarna.

Telur dimasak langsung dalam saus berbasis:

tomat,

paprika,

onion,

dan berbagai:

rempah.

Biasanya disajikan dalam pan tempat makanan tersebut:

dimasak.

Bagian terbaiknya?

Roti.

Sobek sedikit.

Celupkan ke saus.

Ambil sedikit telur.

Makan.

Ulangi.

Shakshuka punya karakter yang:

hangat,

savory,

sedikit acidic,

dan kaya:

rempah.

Cocok untuk breakfast yang terasa lebih:

serius.

3. Tamagoyaki — Jepang

Telur.

Tetapi dibuat menjadi sesuatu yang sangat:

rapi.

Tamagoyaki adalah omelet Jepang yang dibuat dengan menggulung lapisan telur secara:

bertahap.

Hasil akhirnya berbentuk seperti:

balok.

Kemudian dipotong menjadi beberapa:

bagian.

Teksturnya:

lembut.

Rasanya dapat memiliki sedikit sentuhan:

manis,

gurih,

atau kombinasi keduanya tergantung:

resep.

Tamagoyaki bisa muncul dalam breakfast Jepang dan juga dikenal sebagai bagian dari:

bento.

Dari bahan sederhana seperti telur, teknik memasaknya membuat hasil akhirnya terasa:

berbeda.

4. Croissant & Coffee — Prancis

Tidak semua sarapan harus mempunyai:

12 komponen.

Kadang cukup:

croissant.

Kopi.

Selesai.

Croissant yang baik mempunyai bagian luar:

flaky.

Ketika digigit?

Ada serpihan pastry ke mana-mana.

Bagian dalamnya:

buttery,

lembut,

dan berlapis.

Pasangkan dengan:

coffee.

Breakfast sederhana seperti ini sangat cocok dengan ritme pagi yang tidak membutuhkan makanan:

berat.

Dan mungkin justru kesederhanaannya yang membuat kombinasi ini begitu:

ikonik.

5. Menemen — Turki

Kalau melihatnya sekilas?

Mungkin terlihat seperti scrambled egg yang sangat:

saucy.

Menemen umumnya dibuat menggunakan:

telur,

tomat,

dan peppers,

dengan variasi bahan serta seasoning tergantung:

resep.

Telurnya tidak harus menjadi scrambled egg kering.

Justru tekstur yang sedikit:

lembut

dan juicy membuatnya cocok dimakan bersama:

roti.

Ambil roti.

Scoop.

Makan.

Ini tipe sarapan yang terasa:

comforting.

Sederhana tetapi sangat:

memuaskan.

6. Chilaquiles — Meksiko

Breakfast yang satu ini tidak datang untuk:

bermain aman.

Chilaquiles biasanya menggunakan tortilla yang dipotong kemudian dikombinasikan dengan:

salsa.

Topping bisa meliputi:

cheese,

cream,

onion,

dan tentu saja:

egg.

Variasinya sangat:

banyak.

Salsa merah?

Bisa.

Hijau?

Bisa.

Tambah protein?

Juga bisa.

Hasilnya adalah breakfast dengan kombinasi:

crunch,

sauce,

creaminess,

dan:

spice.

Kalau Anda tipe orang yang menganggap cereal terlalu membosankan untuk pagi hari?

Chilaquiles mungkin lebih cocok.

7. Kaya Toast dengan Telur — Singapura

Ini contoh bagaimana breakfast sederhana bisa mempunyai kombinasi rasa yang sangat:

memuaskan.

Kaya toast biasanya terdiri dari roti panggang dengan:

kaya

dan:

butter.

Manis.

Creamy.

Kemudian ditemani telur yang dimasak sangat:

lembut.

Tambahkan sedikit:

soy sauce

dan pepper sesuai kebiasaan:

penyajian.

Sekarang ada kontras:

manis dari toast.

Savory dari telur.

Dan tentu saja sering ditemani:

kopi.

Breakfast yang tidak terlalu besar tetapi punya identitas sangat:

kuat.

8. Çılbır — Turki

Kalau sebelumnya ada menemen, Turki masih punya satu hidangan telur yang layak:

dibicarakan.

Çılbır biasanya menggunakan:

poached eggs

dengan:

yogurt,

kemudian diberi butter berbumbu atau elemen seasoning:

lainnya.

Kombinasinya mungkin terdengar tidak biasa kalau belum pernah mencoba:

telur + yogurt.

Tetapi teksturnya justru:

menarik.

Creamy yogurt.

Runny yolk.

Butter.

Spice.

Tambahkan roti untuk mengambil semuanya dari:

piring.

Breakfast sederhana yang terasa jauh lebih:

mewah.

9. Tortilla Española — Spanyol

Namanya:

tortilla.

Tetapi jangan langsung membayangkan tortilla ala:

Meksiko.

Tortilla Española merupakan hidangan berbasis:

telur

dan:

kentang,

sering juga menggunakan:

onion,

meskipun soal onion sendiri bisa menjadi topik debat yang cukup:

serius.

Hasil akhirnya seperti omelet yang:

tebal.

Bisa dipotong seperti:

cake.

Dapat dimakan hangat maupun pada suhu:

ruang.

Teksturnya cukup:

padat,

sehingga beberapa potong saja sudah bisa menjadi sarapan yang:

mengenyangkan.

10. Turkish Breakfast — Turki

Kalau Full English adalah satu piring besar, breakfast Turki bisa terasa seperti:

meja penuh side quest.

Ada:

cheese.

Olives.

Tomatoes.

Cucumber.

Bread.

Jam.

Honey.

Eggs.

Dan berbagai tambahan lain tergantung:

tempat.

Alih-alih hanya satu hidangan utama, konsepnya lebih seperti banyak komponen kecil yang dinikmati secara:

perlahan.

Ambil roti.

Cheese.

Olive.

Sedikit honey.

Minum:

tea.

Ngobrol.

Makan lagi.

Breakfast berubah dari aktivitas cepat menjadi:

social experience.

11. Huevos Rancheros — Meksiko

Telur lagi.

Tetapi sekarang:

Mexico mode.

Huevos rancheros biasanya terdiri dari telur yang disajikan bersama:

tortilla

dan saus berbasis:

tomat/chili.

Bisa dilengkapi dengan:

beans,

rice,

avocado,

atau berbagai tambahan tergantung:

penyajian.

Ini bukan breakfast yang:

shy.

Warnanya:

cerah.

Rasanya:

savory.

Bisa:

spicy.

Dan cukup mengenyangkan untuk menjadi energi sebelum aktivitas:

panjang.

12. Nasi Uduk dengan Telur — Indonesia

Tidak adil membahas breakfast dunia tanpa melihat sesuatu yang dekat dengan:

rumah.

Di Indonesia?

Sarapan bisa berarti:

nasi.

Dan itu sangat:

normal.

Nasi uduk dengan:

telur,

bihun,

tempe,

sambal,

dan berbagai lauk lainnya

bisa menjadi breakfast yang lengkap.

Bagi traveler yang terbiasa hanya makan:

toast

di pagi hari?

Mungkin terlihat seperti:

lunch.

Bagi kita?

Selasa pagi.

Itulah bagian menarik dari food culture.

Definisi “makanan sarapan” sangat bergantung pada:

kebiasaan.

Kenapa Telur Muncul di Banyak Menu Sarapan?

Kalau memperhatikan daftar tadi, satu bahan terus:

kembali.

Egg.

Dan sebenarnya masuk:

akal.

Telur relatif:

fleksibel.

Bisa dimasak:

cepat.

Bisa dipadukan dengan banyak:

bahan.

Bisa menjadi:

main dish

atau:

side dish.

Dan teknik sederhana saja sudah menghasilkan pengalaman yang:

berbeda.

Fried egg.

Poached egg.

Scrambled egg.

Boiled egg.

Omelet.

Bahan:

sama.

Hasilnya bisa terasa seperti lima makanan:

berbeda.

Tidak heran telur punya tempat besar dalam berbagai sarapan khas dunia.

Sarapan Tidak Harus Manis

Ada budaya yang pagi harinya identik dengan:

pastry.

Jam.

Fruit.

Cereal.

Tetapi di banyak tempat, breakfast justru:

savory.

Rice.

Soup.

Fish.

Beans.

Vegetables.

Meat.

Eggs.

Bagi traveler, ini terkadang membutuhkan sedikit:

adaptasi.

Bayangkan biasanya jam 8 pagi makan:

toast.

Kemudian saat traveling disajikan:

ikan,

nasi,

sup,

dan acar.

Otak mungkin berkata:

“Ini makan siang.”

Tetapi penduduk lokal?

“Breakfast.”

Tidak ada aturan universal mengenai makanan apa yang boleh dimakan sebelum:

jam 10.

Sarapan Bisa Menunjukkan Ritme Hidup Sebuah Tempat

Ada kota yang sarapannya:

cepat.

Masuk cafe.

Coffee.

Pastry.

Pergi.

Ada tempat yang breakfast berarti:

duduk.

Banyak piring.

Tea.

Ngobrol.

Makan perlahan.

Dari sini kita bisa melihat sedikit tentang:

ritme kehidupan.

Apakah pagi menjadi sesuatu yang harus segera:

dilewati?

Atau justru menjadi bagian penting dari aktivitas:

sosial?

Food culture sering menceritakan hal-hal seperti ini tanpa perlu membaca buku:

sejarah.

Hotel Breakfast atau Makan di Luar?

Ini dilema traveler.

Hotel menawarkan:

praktis.

Bangun.

Turun.

Makan.

Selesai.

Tetapi kalau setiap pagi hanya makan buffet hotel?

Kita bisa kehilangan kesempatan mencoba breakfast:

lokal.

Solusi?

Mix.

Kalau itinerary sangat pagi?

Hotel breakfast.

Kalau punya waktu?

Keluar.

Cari:

bakery.

Warung.

Cafe.

Market.

Atau tempat breakfast yang memang ramai oleh:

warga lokal.

Tidak harus setiap hari.

Bahkan satu atau dua pagi saja sudah bisa memberikan pengalaman yang:

berbeda.

Cari Tempat yang Ramai di Pagi Hari

Salah satu trik sederhana mencari breakfast ketika:

traveling?

Perhatikan orang yang sedang pergi:

kerja.

Mereka beli kopi di:

mana?

Ambil roti di:

mana?

Makan sebelum kantor di:

mana?

Tempat yang dipenuhi warga lokal jam 7–9 pagi sering memberikan gambaran breakfast sehari-hari yang lebih:

nyata.

Tidak berarti tempat viral itu:

buruk.

Tetapi tempat yang menjadi rutinitas warga biasanya punya alasan kenapa orang terus:

kembali.

Jangan Takut Mencoba Breakfast Market

Traditional market dan food market sering hidup sejak:

pagi.

Dan itu justru waktu yang:

menarik.

Bahan masih:

fresh.

Vendor baru:

buka.

Orang lokal mulai:

datang.

Anda bisa menemukan makanan yang mungkin tidak tersedia di cafe modern dekat:

hotel.

Bonus?

Harga sering lebih masuk:

akal.

Jangan Langsung Cari McDonald’s

Tiba di negara baru.

Pagi.

Lapar.

Lihat golden arches.

Otak:

“Aman.”

Boleh.

Tidak ada polisi travel yang akan:

menangkap.

Tetapi kalau punya kesempatan mencoba sesuatu yang hanya mudah ditemukan di negara tersebut?

Sayang kalau dilewatkan.

Fast food bisa ditemukan lagi di:

rumah.

Breakfast lokal?

Belum tentu.

Pesan Apa yang Dimakan Orang Sebelah

Tidak tahu menu?

Lihat meja:

sebelah.

Ada makanan yang terlihat:

enak?

Tanya waiter:

“What is that?”

Kemudian:

order.

Ini salah satu strategi kuliner paling sederhana dan sering sangat:

efektif.

Karena foto menu kadang:

menipu.

Piring asli di sebelah?

Real-time:

preview.

Breakfast Buffet Bisa Jadi Tempat Eksperimen

Kalau hotel menyediakan banyak makanan lokal?

Manfaatkan.

Ambil sedikit:

dulu.

Satu sendok.

Satu potong.

Coba.

Suka?

Tambah.

Tidak suka?

Tidak perlu mengambil sepiring:

penuh.

Buffet memberikan kesempatan mencoba beberapa rasa dengan risiko:

rendah.

Tetapi tetap jangan mengambil makanan berlebihan yang akhirnya:

terbuang.

Kopi Juga Berbeda di Setiap Negara

Breakfast bukan hanya:

makanan.

Coffee culture juga sangat:

beragam.

Espresso kecil.

Filter coffee.

Milk coffee.

Sweet coffee.

Strong coffee.

Cold coffee.

Kadang ukuran yang kita bayangkan juga tidak sama dengan yang:

datang.

Pesan coffee.

Datang cangkir yang:

mini.

Traveler:

“Ini sample?”

Tidak.

Itu memang:

kopinya.

Dan justru pengalaman kecil seperti itu yang membuat perjalanan:

seru.

Roti Tidak Pernah Cuma “Roti”

Pergi ke bakery di negara berbeda dan Anda akan segera:

sadar.

Bread culture sangat:

luas.

Baguette.

Sourdough.

Flatbread.

Rye bread.

Milk bread.

Pita.

Simit.

Dan puluhan bentuk lain.

Bahkan breakfast yang hanya terdiri dari:

bread + butter

bisa terasa berbeda tergantung kualitas dan jenis:

rotinya.

Jadi jangan selalu mencari menu:

kompleks.

Kadang hal sederhana adalah yang paling:

lokal.

Telur Setengah Matang Bisa Disajikan dengan Cara Berbeda

Kalau suka:

runny egg,

Anda akan menemukan banyak versi di berbagai:

negara.

Poached.

Soft boiled.

Sunny side.

Onsen-style.

Soft scrambled.

Namun standar tingkat kematangan dan cara penyajian bisa berbeda.

Kalau mempunyai preferensi tertentu?

Tanyakan.

Terutama kalau memang membutuhkan telur matang penuh karena pertimbangan:

pribadi.

Sarapan Berat Tidak Selalu Cocok Sebelum Jalan Jauh

Punya itinerary:

museum.

Walking tour.

Naik bukit.

20.000 langkah.

Kemudian breakfast:

besar banget.

Setengah jam kemudian?

“Balik hotel bentar kali ya.”

Sesuaikan porsi dengan:

aktivitas.

Kalau hari akan sangat aktif, makanan yang memberikan energi tanpa membuat terlalu:

berat

mungkin lebih nyaman.

Sedangkan hari santai?

Silakan breakfast panjang.

Tidak ada yang:

mengejar.

Bangun Sedikit Lebih Pagi untuk Breakfast Lokal

Tempat breakfast populer kadang mulai:

ramai

setelah jam tertentu.

Kalau memang ada tempat yang ingin dicoba?

Datang sedikit lebih:

awal.

Bonusnya kota juga terasa:

berbeda.

Jalan belum terlalu:

ramai.

Udara masih:

sejuk.

Cafe baru:

buka.

Suasana pagi sering menjadi salah satu bagian paling tenang dari:

traveling.

Jangan Jadikan Setiap Makanan Sebagai Konten

Breakfast datang.

Foto.

Video.

Flat lay.

Story.

Close-up.

Potong telur.

Record yolk.

Sekarang makanan:

dingin.

Ambil foto kalau:

mau.

Tetapi kemudian:

makan.

Makanan bukan hanya sesuatu yang harus terlihat bagus di:

feed.

Rasa, aroma, tekstur, dan suasana justru menjadi bagian yang paling:

penting.

Breakfast Bisa Menjadi Cara Murah Menikmati Kuliner

Dinner di restoran terkenal mungkin:

mahal.

Breakfast?

Sering lebih:

accessible.

Bakery lokal.

Coffee shop.

Market stall.

Small cafe.

Dengan budget relatif lebih rendah, kita masih bisa mencoba sesuatu yang khas:

daerah.

Jadi kalau budget culinary travel terbatas?

Jangan hanya mencari:

dinner.

Pagi juga punya banyak:

kesempatan.

Buat Breakfast Bucket List yang Fleksibel

Sebelum traveling, simpan:

3–5 makanan.

Bukan:

Kenapa?

Karena itinerary yang terlalu penuh makanan justru membuat:

stres.

Misalnya pergi ke:

Turki.

Target:

menemen.

Turkish breakfast.

Çılbır.

Sudah.

Sisanya?

Discover ketika:

di sana.

Dengan begitu masih ada ruang untuk:

kejutan.

Dan sering kali makanan random justru menjadi favorit.

Jadi, Menu Sarapan Mana yang Paling Menarik?

Kalau suka sesuatu yang:

simple?

Croissant dan coffee.

Kalau suka breakfast:

besar?

Full English.

Kalau ingin telur dengan rasa yang:

bold?

Shakshuka atau menemen.

Kalau ingin sesuatu yang rapi dan:

delicate?

Tamagoyaki.

Kalau ingin breakfast yang bisa dinikmati perlahan sambil:

ngobrol?

Turkish breakfast.

Dan kalau kangen rasa yang dekat dengan:

rumah?

Nasi uduk selalu:

siap.

Tidak ada satu menu sarapan dari berbagai negara yang bisa disebut paling:

benar.

Karena breakfast bukan kompetisi.

Ia adalah kebiasaan yang tumbuh bersama:

budaya.

Iklim.

Bahan lokal.

Sejarah.

Dan gaya hidup masyarakatnya.

Itulah kenapa saat traveling, mungkin ada baiknya sesekali melewatkan breakfast yang sudah:

familiar.

Keluar dari hotel.

Cari tempat yang sudah ramai sejak:

pagi.

Duduk.

Pesan sesuatu yang belum pernah:

dicoba.

Dan lihat bagaimana orang di bagian dunia yang berbeda memulai:

harinya.

Kadang petualangan kuliner terbaik tidak dimulai saat:

dinner.

Tetapi ketika kita baru:

bangun.